Menjelajahi Maha Vihara dan Candi Brahu
Rumah Panggung di Cepu
1.26.2011
Bangunan Kuno bergaya Empire, dimanakah ku temukan itu ( 2 )
7.26.2010
Bangunan yang sampai sekarang masih berfungsi dengan baik ini populer dengan nama museum House of Sampoerna ( HoS) yang terletak di Jalan Taman Sampoerna No. 6, Surabaya.
Seperti pada bangunan-bangunan yang lain yang memiliki ciri yang demikian, bangunan ini juga memiliki cirinya pada 4 tiang pilar yang ada didepan bangunan ini.Selain pilar yang ada, kita juga melihat ciri khas yang lain yang ada seperti, pintu dan jendela ventilasi yang tinggi tersebut makin mempertegas keberadaannya sebagai banguan kolonial Belanda yang ber ciri khas Empire.
Menurut informasinya bangunan ini dulu didirikan oleh Jangens-Weezen-Inrichting atau yayasan panti asuhan yatim piatu pada tahun 1864.
Dan pada tahun 1932 bangunan ini dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna dan dijadikanlah bangunan ini sebagai pabrik rokok Sampoerna yang pertama di Indonesia dan, melahirkan rokok kretek yang legendaris dengan merk Djie Sam Soe ( 234 ).
Itulah beberapa bangunan yang menurut penulis masih banyak lagi bangunan yang ada di Surabaya yang memiliki gaya Empire. Namun setidaknya dari sedikit yang telah saya tulis di bagian 1 dan 2 dapat menjadi catatan yang berguna bagi para penyuka bangungan kuno yang ada di kota pahlawan ini.
Masih di Kawasan Surabaya Lama
7.16.2010
Bangunan ini dulunya adalah gedung Syahbandar dalam masa silam, dan kini bagunan ini tanpak seperti bangunan lawas yang tak terawat, sungguh jika ini masih dirawat dengan baik mungkin, akan menjadi sebuah bangunan yang menarik untuk dijadikan ikon wisata di Surabaya.
Melihat dari bangunan yang ada di sekitar jalan ini, kelihatannya hanya bangunan ini yang memiliki ciri yang unik yang tidak ada di bangunan sekitarnya, dan bentuk bangunan ini biasanya tergolong bangunan tua, karena saya penasaran dan sangat tertarik dengan bangunan yang kelihatan tidak terawat ini maka saya abadikan lewat foto saya, barangkali ada yang memiliki cerita dibalik bangunan yang terkesan lawas dan lain daripada yang lain ini.
Banguna ini ternyata juga merupakan bangunan kuno peninggalan jaman Belanda, dimana bangunan ini juga masih berfungsi seperti pertama bangunan ini didirikan, yaitu sebagai gedung panti asuhan.
Sepeti bangunan yang ada di sebelahnya, bangunan ini juga masih terlihat bersih dan terawat.
Candi Tikus, Ke elokan yang terpendam
7.12.2010
Sabtu, minggu kedua bulan Juli, sebetulnya saya tidak ada rencana untuk jelajah ke tempat-tempat tertentu, tapi kegiatan jadi lain karena si Non ingin mengajak saya ke Jombang untuk urusan keluarga, jadilah Sabtu itu berdua berangkat kesana.
Saya berangkat Surabaya pagi Jam 08.00 WIB, sengaja kita berangkat pagi dengan harapan nantinya sampai di Jombang hari mash siang dan jika terus kembali sampai di Surabaya hari masih sore.
Meski diperjalanan tidak bisa dikatakan lancar, karena arus lalu lintas jalan yang masih padat, maklum saptu, akhir pekan sepanjang jalanan banyak ditemui kendaraan, baik roda dua dan roda empat yang memadati jalan disana sini, sehingga mengakibatkan jalan tidak bisa lancar seperti yang kita harapkan.
jarak Surabaya - Jombang yang biasanya kami tempuh dengan paling lama 1,5 s.d 2 jam, kali ini tidak seperti biasanya, sampai di tujuan jam sudah menunjukkan jam setengah duabelas, jadi cukup lama juga rasanya.
Oh..ya ada yang ketinggalan sedikit, selama dalam perjalanan ke Jombang karena saya tidak meleati jalan besar Surabaya-Jombang tapi saya berbelok di daerah Mojowarno dan melewati kota kecil Mojowarno maka saya sempat untuk beberapa saat berhenti dan mengambil gambar bangunan Gereja yang ada di sisi kakan perjalanan saya, yang menurut saya bangunan ini termasuk bangunan kuno dan keberadaanya samopai sekarang gedung ini masih terlihat terawat dengan baik dan masih berfungsi dengan baik juga.
Selesai urusan di Jombang kami langsung pulang, saya tak ingin sampai di Surabaya malam, sebab ada kepentingan yang harus saya selesaikan di rumah.
Dalam perjalanan menuju pulang sampai di daerah trowulan saya langsung inget, bahwa saya dulu pernah jelajah di daerah ini yaitu Pusat Informasi Majapahit (PIM, sehingga menggugah keinginan saya untuk mengajak si Non untuk melihat PIM, sekalian akan saya teruskan ke beberpa tempat lagi yang masih ada di sekutar PIM tersebut.
Sampai di PIM, suasana sepi dan tak banyak pengunjung, hanya ada beberapa rombongan kecil dari keluarga yang siang itu ada disana, dan yang membuat saya agak kecewa, ruang meseum disan tutup, menurut seorang penjaga memang kalau hari minggu/libur museum yang ada tutup, padahal menurut hemat saya, seharusnya pada hari libur/Minggu tersebut dibuka, sebab pada biasanya pada hari libur/Minggu itu banyak orang yang berlibur, dan salah satunya ada yang mengunjungi PIM, jadinya kalau tutup ya agak kecewa juga.
namun kekecewaan saya agk terobati, meski museum Trowulan ditutup tapi kami berdua masih bisa menikmati artefap yang lain yang ada di pendopo belakang museum dan bisa melihat beberapa sisa penggalian yang ada di sisi Timur PIM.
Selesai menikmati keindahan artefak dan patung-patung peninggalan kerajaan Majapahit kami langsung ingat meninggalkan tempat itu dan saya langsung ingat bahwa didekat PIM ini beberapa situs / candi peninggalan jaman Majapahit juga, salah satunya yang ingin saya jelajahi adalah Candi Tikus, karena dalam jelajah saya yang dulu, karena keterbatasan transportasi dan waktu saya harus mengurungkan niatnya untuk menengok candi ini yang sebetulnya jaraknya tak terlalu jauh, tapi tak kesampaian.
Candi Tikus ini terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto juga, jadi kira-kira 2 km dari Pusat Informasi Majapahit (PIM).
Seperti wisata-wisata candi yang lain, di tempat ini tampaknya juga sepi pengunjung, hanya ada beberapa kelompok pengunjung yang rata-rata masih remaja dan ada beberapa ada anak-anak, mereka sudah ada sebelum kami datang.
Udara disini panas dan dalam perjalanan tadi berdebu, sebelum saya masuk ke lokasi kami disodori buku tamu oleh petugas, dan setelah saya isi dan memberikan sedikit uang jaga, kami langsung menuju ke candi, kami terus berputar-putar di sekitar candi itu dan yang membuat hati ini agak jengkel [ padahal saya tak punya hak untuk jengkel ] yaitu saya melihata beberapa pengunjung, anak-anak muda yang befoto ria sambil berdiri di atas struktur candi yang paling atas, saya berfikir ini candi yang memiliki nilai sejarah tinggi kok enaknya dinaiki dan dibuat se enaknya, lha kalau semua pengunjung seperti ini apa tak bakalan cepet rusak candi ini, makanya ketika saya berputar ke arah pengunjung adi saya sempat untuk memberitahu mereka untuk turun dari sana, dan mereka menuruti meski saya merasakan mereka menggerutu pada omongan saya, ah.....mana ada urus, dari pada mereka berbuat itu.
lihat foto diatas, apakah saudara lihat anak-anak muda berfoto ria diatas candi itu ? gimana komentar pembaca dan apakah sependapat dengan saya ?
baik saya teruskan ceritanya :
Lokasi candi ini menurut saya tergolong tidak begitu luas dan terasa bersih terawat, sehingga kita bisa nyaman dan tidak begitu panas karena disana sini tumbuh pohon rindang bisa untuk berteduh, dan tentu banyak penjual makanan dan minuman ringan disana, hanya saja pengunjungnya sepi, padahal hari itu hari libur, seharusnya banyak pengunjung yang menikmati selagi libur, tapi malah sebaliknya, seperti yang saya temui di lokasi sebelumnya [PIM], disana juga sepi pengunjung.
Menurut ceritanya, candi ini ditemukan pada tahun 1914, oleh penduduk sekitar secara tidak sengaja, sebab menurut cerita penemuannya dulunya merupakan gu dukan tanah dan tempat pemakaman penduduk sekitar. Pada waktu itu didaerah tersebut diserang hama tikus, yang mengakibatkan penduduk sawahnya banyak yang gagal panen, maka secara mufakat penduduk setempat mengadakan pencarian sarang tikus, dan dalam pencarian sarang tikus itu ditemukan terminatur candi, kemudian oleh penduduk penemuan ini dilaporkan kepada Bupati Mojokerto waktu itu yaitu ; R.A. Kromodjojo Adinegoro dan atas ijin Dinas Kepurbakalaan dan pada tahun 1916 pemugaran selesai yang menampakkan seluruh bangunan candi.
Bangunan ini merupakan bangunan bujur sangkar dengan ukuran 22,5 m X 22,5 m dan terletak dikedalaman 3,5 m dari permukaan tanah.
Mengenai fungsi candi tersebut bekum banyak diketahui secara pasti, tetapi menurut bentuknya bangunan ini merupakan bangunan pemandian suci, jika kita melihat lebih dekat candi ini mirip dengan gunung Mahameru yang ada di India, maka memberi kesan bahwa bangunan ini merupakan tempat suci, seperti kesucian Mahameru tersebut.
Pada masa pemerintahan Belanda candi ini pernah dipugar, tetapi tidak ada laporannya secara rinci, tetapi banyak bukti antara lain, pemasangan kembali menara induk dan pembuatan gorong-gorong. an pada tahun 1984/1985 sampai dengan tahun 1988/1989 dipugar kembali oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, dengan diperluas area candi terseut, dan pemugaran dinyatakan selesai dan diresmikan pada tanggal 21-9-1989 oleh Dirjenhub Dept. Pendidikan dan Kebudayaan dengan hasil seperti yang sekarang kita lihat.
Menyeruak lebih dalam Hotel Majapahit - Surabaya
5.23.2010
Dan ketika saya menyusuri lorong-lorong kamar yang ada di hotel ini, saya tertarik dengan ornamen ukiran yang ada disetiap sandaran kursi teras di muka kamar.
Menyusuri tiap lorong-lorong yang ada didalam hotel ini sungguh anda seolah merasakan anda berjalan dalam ruang yang jauh dan sepi, suasana ini tercipta lantaran selama kita menyusuri lorong ini relatif sangatlat panjang dan kiri kanannya dalam suasana yang sama, dan ketika saya mencoba mengabadikan lewat foto, saya menemukan keindahan sebuah lorong yang sepi dan panjang ini.
Ada yang manarik dari penyeruakan saya di lorong-lorong hotel tua ini, oleh sahabat saya diberi tahu salah satu kamar yang dahulunya pernah ditempati oleh Jendral Malaby, jendral yang saat itu menjadi komando perang dasyat di kota Pahlawan ini, antara tentara Belanda dengan arek-arek Suroboyo yang gagah berani, dan oleh siapa [ sampai kini belum diketahui] jendral ini mati terbuhuh di daerah Jembatan Merah itu.
Satu lagi sebelum saya meninggalkan hotel ini untuk melanjutkan perjalanan ini saya, sempat masuk ke toilet yang ada di tengah lorong sebelah timur, dan menemukan peralatan urinoir yang sangat spesifik, antik dan menarik, sungguh saya merasa nyaman dan enak ketika saya menggunakan tempat kecing ini.
Meyusuri seluruh sudit-sudut hotel yang dulunya bernama Hotel Oranje ini dalam wakt satu jam, sangatlah kurang dibanding dengan keinginan tahuan saya pada sudt-sudt yang lain yang saya yakin masih belum saya jelajahi hari itu, tapi saya yakin bahwa saya dilain waktu akan kembali menghabiskan waktu untuk menjelajahi kembali hotel bintang lima ini.
Beberapa sudut Soerabaia dalam kenangan lama........
5.04.2010
PENELEH, kemegahan makam yang kini terlantar.
3.24.2010
Menikmati bangunan lama, menumpahkan rinduku.
3.11.2010

Menyusuri jalan ini selain sering aku lakukan tetapi ada satu hal yang terlewatkan yaitu, bahwa di jalan ini terpasang rel kereta api, saya terus bertanya-tanya dalam hati, apakah rel KA ini keberadaanya memang sudah lama ada atau baru-baru saja, tapi melihatnya saya yakin kalau jalan KA ini termasuk kuno, tapi saya sendiri juga tak yakin sebab selama ini saya tak pernah membaca tulisan - tulisan tentang keberadaan rel KA yang ada di sisi timur jalan Kalimas ini, dan mungkin dikesempatan lain saya dapatkan data sebuah rel yang melintang dari utara ke selatan.
Memorabilia kota Magelang Jilid 1
2.24.2010
Tiga bangunan tua di Tegalsari
1.04.2010
Sering melewati jalur ini antara Tegalsari dan Jl. Tunjungan dan setiap kali melewati tidak pernah terlintas kalau di jalan ini terdapat beberapa banguna kuno yang menarik saya.
Namun ketika kemarin saya melalui jalan ini, tanpa sengaja mata saya tertuju pada sebuah bangunan yang menurut hemat saya termasuk bangunan tua.
Menilik bentuknya saya yakin ini adalah bangunan tua yang dalam keadaan rusak, tapi kami merasa lega sebab ketika saya dalam kesempatan lain, beberapa hari setelahnya dalam rangka meomotret bangunan ini saya melihat bahwa bangunan ini dalam tahan dibenahi.
Bangunan yang sempat saya abadikan ini adalah bangunan tua yang berada di Jl. Tegalsari No. 50.
Bangunan yang di No. 46 ini kelihatan meskipun tergolong tua, tapi menurut saya mungkin umurnya belum sebegitu tua, dibanding dengan bangunan yang sudah saya foto sebelumnya [ JL. Tegalsari No. 50 ] namun bangunan ini masih terlihat terawat baik dan bersih, mungkin karena bangunan ini masih penghuninya.
Sebetulnya masih ada bangunan satu lagi yang saat itu sempat saya foto, yaitu bangunan yang ada di Jl. Tegalsari No. 52, bangunan ini malah terkesan masih bersih dan terawat dengan baik, bahkan terkesan sangat cantik dibanding dengan bangunan-bangunan sebelumnya yang saya foto. Bangunan ini menilik bentuknya masih sama bahkan mungkin seangkatan dengan bangunan yang ada di sebelahnya No. 50.Balai Sahabat Yang Makin Merana...
12.16.2009

Gedung ini terletak di Jl. Gentengkali N0.89-91 Surabaya dulunya adalah merupakan bangunan peninggalan jaman kolonial Belanda, dan gedung ini dimasanya terkenal sebagai Club House. Namun karena kurangnya perhatian dari pemiliknya ( bangunan ini sekarang dimiliki oleh yayasan ) maka bangunan kuno yang dulunya menampakkan kemegahan ini kini sekarang nyaris tak berbekas.
Gedung ini menurut catatan dibangun pada tahun 1930-an, pada awalnya gedung ini adalah gedung perkumpulan orang-orang Jerman bernama DEUCSE yaitu, perkumpulan orang-orang Eropa, khususnya orang Jerman dan Belanda yang mempunyai kegemaran dansa.
Dilihat dari luasnya bangunan yang mencapai 3.974 m3 mungkin bangunan ini merupakan gedung perkumpulan "societit" terbesar di Surabaya.
Tahun 1946, gedung ini dibeli oleh pengusaha tiong hoa bernama Phoe Sin Khoen, kemudian dihibahkan kepada perkumpulan maka, perkumpulan yang tadinya bernama Deucse berganti menjadi Lien Huan She dan seiring berjalannya waktu gedung ini berubah nama menjadi BALAI SAHABAT hingga sekarang. Sebagai catatan bahwa gedung ini pernah dipakai oleh Kostrad.
Gedung ini menurut perkumpulan Balai Sahabat merupakan perkumpulan komunitas yang beragam kegiatannya, sedang dansa ( yang sampai sekarangpun masih dilaksanakan) adalah merupakan sebagian dari kegiatan perkumpulan ini, sedang kegiatan yang lain yang dulu misalnya; Tenis, Bridge, Biliard dan Yoga, Namun karena gedung ini makin lama makin tidak terawat dan sudah jarang disewa untk keperluan pesta perkawinan dan lain-lain maka gedung ini makin lama makin mengenaskan, dan yang paling menjadi penyebab utama dari makin terpuruknya bangunan ini adalah tidak adanya insvestor yang mau menjalin kerjasama untuk mengelola dan dalam perkembangan selanjutnya keadaan ini makin diperdalam dengan munculnya dualisme kepengurusan dan muncul kabar bahwa Balai Sahabat ini akan dijual, namun dari salah seorang pengurusnya mengatakan; tidak masalah saya dilengserkan dari pengurus karena memang saya berharap ada regenerasi, tapi jangan buat isu macam-macam" demikian dia mengatakan, dan apakah benar gedung ini akan dijual, besar harapan saya semoga segera Pemerintah Kota mengeluarkan peraturan baru yang berisikan daftar nama-nama bangunan sejarah yang akan menjadi benda/bangunan cagar budaya, dan salah satunya Balai Sahabat ini masuk dalam daftar tersebut, dan tentunya kedepan bangunan ini akan mendapat perhatian dari pihak-pihak yang berkepentingan denga banguna ini, sehingga bangunan sejarah ini akan menjadi pratanda sejarah dari sebuah budaya masyarakat Surabaya.
Tua di tengah kota dan masih cantik...
12.11.2009
Beberapa puluh meter dari Apotik Simpang ke arah Timur, kita akan menemukan bangunan cagar budaya yang lain yaitu; Kantor Gubernur. Bangunan ini dibangun pada masa pemerintahan VOC, Gezaghebber (penguasa) Dirk Van Hoogendrop pada tahun 1794 - 1798. Bagian gedung yang kita lihat sekarang ini sebenarnya adalah bagian belakang, sedang bagian depannya adalah yang menghadap ke arah sungai Kalimas, sehingga dahulu penghuninya dapat melihat kapal-kapal yang melewati sungai tersebut.
Maih berada di sisi Utara Jl. Gubernur Suryo, persis bebrapa meter dari Gedung Grahadi, dipojok terdapat sebuah bangunan yang tak kalah menariknya pula, yaitu Gedung Balai Pemuda. Gedung ini dalam sejarahnya memiliki sejarah yang kelam khususnya bagi warga pribumi, sebab dahulu gedung ini hanya boleh dimasuki oleh orang-orang Belanda dan warga pribumi dilarang masuk, bahkan dalam prasastinya sebagian tulisannya berbunyi : " di jaman Belanda gedung ini dipakai klas orang kulit putih, orang pribumi dan anjing dilarang masuk,.......". Gedung ini sebetulnya pindahan dari gedung yang lama yang sebelumnya berada di ujung selatan jalan Embong Malang, dipojok dengan jalan Tunjungan yang dibangun tahun 1850, kemudian pindah ke tempat ini Bangunan ini tahun 1907 - 1945 adalah milik perkumpulan orang-orang Belanda bernama " De Simpangshe Societeit " yaitu tempat orang-orang Belanda berpesta ria, dansa, dan lain-alin.
Depot Ice Cream ini didirikan untuk memenuhi selera orang Eropa yang gemar ice cream oleh Renato Zangrandi pada tahun 1930.Dulunya depot ini bernama Renato Zangrandi's Ijspaleis dan sekarang depot ini terkenal dengan nama ice cream Zangrandi.Rasa ice creamnya pun dari dulu sampai sekarang tidaklah berubah, dengan tekstur ice cream yang agak kasar dan tidak benyak menggunakan susu maka, keaslian cita rasa ini bisa dijaga sehingga inilah yang menjadi daya tarik wisatawan untuk menikmati rasa ice cream yang Old Style, coba saja Tutti Frutti dan Avocado Fudge, rasanya masih sama seperti pertama kali kedua jenis ice cream ini dibuat.

























