PENELEH, kemegahan makam yang kini terlantar.

3.24.2010


Makam Belanda dimanapun berada pastilah merupakan bentuk bangunan yang kuno dan memiliki nilai kekunoan yang baik dan karena keberadaanya yang sudah lumayan tua, sehingga membuat beberapa makam Belanda ini akan terlihat sangat menawan.
namun disini lain banyak makam-makam Belanda peninggalan jaman kuno, nampak tidak terawat dan malah terkesan sangat memprihatinkan, seperti contoh makam yang ada di pusat kota Surabaya ini, MAKAM PENELEH.






















 
 
Itulah beberapa bagian makam yang sempat saya foto di beberapa sudutnya, mengunjungi makam ini sebetulnya ingin dapat menikmati sebuah peradaban masa lampau yang megah, ternyata tidak demikian yang kudapat, hanya sebuah sisa-sia bangunan kuno yang nyaris tak bergeming akan sebuah kerja yang perlu untuk dibenahi, agar dapat diwujudkan sebuah pemahaman bahwa benda atau bangunan kuno layaknya dijaga dan dipelihara dengan baik untuk sebuah peninggalan sejarah, sebab bangsa akan tercabut dari akarnya jika bangsa itu sendiri tak bisa menghargai sejarahnya.

Menikmati bangunan lama, menumpahkan rinduku.

3.11.2010

Pernah suatu pagi saya sedang libur sendirian, bingung mau dibawa kemana mata ini, dan akhirnya dalam pikiran saya teringat bahwa, pernah bahkan bisa dikatan sering melintas di jalan sekitar pasar ikan Pabean saya sempat menyaksikan bebrapa bangunan yang boleh saya katakan kuno, dan seketika itu pula lansung saya ingin melihat-lihat kembali beberapa bangunan yang ada disekitar daerah itu. 
Karena posisi tempat tinggal kami ada di tengah sedang tempat yang kami tuju ada disini selatan Surabaya maka, tentu akan melewati jalan Dukuh, dan di daerah ini saya sempat tertarik dengan salah jajaran gedung yang ada disisi kanan jalan ini tepatnya di Jl. Dukuh no. 32 A, gedung ini menurut saya jelas bangunan kuno namun sayang, seperti bangunan tempat tinggal kuno yang lainnya, bangunan ini tampak tidak terawat dan kondisinya sangat memprihatinkan, padahal saya yakin jika bangunan ini dipelihara akan terlihat sangat bagus dan tentu juga merupakan usaha melestarikan peninggalan bangunan kuno yang ada di kota ini.
Selain bangunan lama yang ada di jalan Dukuh itu saya juga sempat juga melihat satu bangunan yang menurut hemat saya tergolong aneh, mengapa ? kita mengetahui bahwa disekitar daerah Pasar Pabean, disana lingkungannya adalah mayoritas beragama Islam, hal ini bisa kita buktikan dengan banyaknya pedagang yang memiliki ciri khas Etnis Arab,  yang nota bene adalah pemeluk Agama Islam, tapi setelah kita akan meninggalkan pasar Pabean dan melewati Jalan Panggung disana kita akan menyaksikan satu bangunan yang warnanya lain dari warna yang ada di sekitarnya, dan yang menjadikan saya heran bahwa ternyata bangunan itu adalah sebuah gereja yang menurut hemat kami masih difungsikan keberadaannya.
Gereja Bethel, menilik bangunannya gedung ini juga masih merupakan gedung tua, tapi karena masih difungsikan maka jika dibandingkan dengan gedung-gedung yang lain yang ada disekitarnya, gedung ini masih terlihat terawat.

Setelah melewati jalan Panggung, saya tidak langsung ke arah utara untuk pulang tapi, saya langsung berpitar haluan dan langsung berjalan menyusuri jalan disamping sungai Kalimas yang legendaris ini, persis di sisi utara Jembatan Merah untuk menuju ke kawasan  Surabaya Utara yang lain.
Menyusuri jalan ini selain sering aku lakukan tetapi ada satu hal yang terlewatkan yaitu, bahwa di jalan ini terpasang rel kereta api, saya terus bertanya-tanya dalam hati, apakah rel KA ini keberadaanya memang sudah lama ada atau baru-baru saja, tapi melihatnya saya yakin kalau jalan KA ini termasuk kuno, tapi saya sendiri juga tak yakin sebab selama ini saya tak pernah membaca tulisan - tulisan tentang keberadaan rel KA yang ada di sisi timur jalan Kalimas ini, dan mungkin dikesempatan lain saya dapatkan data sebuah rel yang melintang dari utara ke selatan.
Menghabiskan jalan menyusuri samping Kalimas ke utara langsung perjalanan aku teruskan lagi dan mendekati dermaga Ujung Perak.
Disini sekali lagi saya mencoba mendatangi bangunan cagar budaya kemablai yaitu Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya atau lebih dikenal dengan sebutan MENARA SYAHBANDAR, yang lokasi persisnya ada disamping dermaga ujung itu tepatnya di Jl. Kalimas Baru No. 194.
 
Bangunan ini berada persis disamping gedung administrasi Syahbandar Surabaya, dimana pada tahun 1945 bangunan yang bercat putih ini pernah digunakan sebagai markas Serikat Pelayaran Indonesia ( SPI ) yang kemudian tergabung dalam BKR Laut.
Selesai menikmati gedung di daerah Perak ini saya langsung kembali ke arah kota dan seperti biasa saya akan melewati jalan Rajawali yang penuh dengan bangunan-bangunan lawas peninggalan jaman Belanda.
Dan sebelum sampai di ujung jalan Rajawali saya terus belok kekanan dan tiba-tiba saya ingat akan suatu bangunan yang belum pernah saya jelajahi tetapi malah sudah dijelajahi oleh sahabat belum lihat bangunan ini adalah gedung yang merupakan PABRIK LIMOEN yang sudah tergolong lama bernama " J.C. van DRONGELEN HELLFACH " yang berada di Jl. Mliwis No. 5, Surabaya.
Menilik bangunan pabrik limun yang ada di sini dan bangunan-bangunan yang ada disekitarnya, kita sudah bisa mengira bahwa, disini masih terdapat banyak bangunan yang bersejarah yang patuh kita lestarikan, seperti contoh bangunan yang ada di samping pabrik limun tersebut, bangunan ini juga menampakkan usianya yang sudah tua juga, dan tentunya bangunan-bangunan lain yang ada disekitarnya.
Itulah beberapa bangunan yang sempat saya singgahi di jelajah kuno pagi itu yang berakhir hingga pada siang harinya.
Tak terasa bahwa hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi saya karena ternyata saya bolehlah menumpahkan rinduku pada bangunan-bangunan kuno klangenanku.

Memorabilia kota Magelang Jilid 1

2.24.2010

Sudah lama saya meninggalkan kota Magelang, begitu banyak kenangan-kenangan masa kecil saya yang tumbuh dan berkembang hingga dewasa yang ada dalam diri ini, banyak bermacam-macam kenangan yang masih menempel lekat dalam pikiran saya, mulai dari dinginnya kota Magelang sewaktu kecil itu yang sekarang setelah dewasa dinginnya kota yang berada di engah-tengah 5 gunung ini sudah jarang saya merasakan lagi, sekarang Magelang juga panas dan sedikit sumpek di jalur-jalur utama jalannya, sehingga hampir sama saja saya berada di kota besar dengan kota tempat lahir saya ini, hanya mungkin kalau malam menjelang, Magelang tampak sepi disana sini, bahkan saya kalau ingin mencari tempat kermaian harus berputar-putar kesana kemari hanya untuk mencari segerombolan orang yang sedang santai menikmati dinginnya malam hanya sekedar berharap bisa ketemu dengan orang-orang yang barangkali saya kenal kemudian ikut nimbrung cangkrukan, menghabiskan dinginnya malam di kota ini, namun setelah keliling kesana kemari akhirnya tidak ketemu juga dan pasti terakhir saya harus ke tengah kota, di alun-alun ini biasanya masih ditemukan keramaian sebagian masyarakat kota Magelang demi menghabiskan malamnya.
Meninggalkan kota Magelang seakan masih banyak kenangan-kenangan yang harus di ingat hanya untuk sekadar memuaskan keklangenan dan rasa rindu yang amat dalam pada seluruh kenangan yang ada di kota ini, dan tak terasa dalam perjalan menyusuri kenangan ini saya masih menemukan beberapa memorabilia yang masih segar dalam ingatan saya, sebut saja GEDUNG BUNDAR, gedung ini jelas masih teringat karena ketika saya dulu kalau ingin beli peralatan pancing untuk kemudian berjalan menuju ke tempat renang PISANGAN, saya tentu akan melewati jalan Majapahit dan menemukan gedung ini paling menyolok diantara sederetan gedung-gedung yang ada di jalan itu.
Selain itu pula saya juga akan selalu mengingat bangunan ini yang menjadi salah satu pratanda keberadaan alon-alon kota Magelang, yaitu patung Pangeran Diponegoro.
Patung ini benar-benar mengingatkan saya akan kenangan semasa SMP dulu, sebab saya masih ingat jelas, sewaktu diresmikannya patung ini saya ikut menjadi salah satu peserta yang ikut ambil bagian dalam obade [ menyanyi secara massal] oleh SMP kanisius Pendowo.

Tentu yang ak kalah pentingnya adalah bangunan yang ada dipojok sebelah barat area alon-alon ini, bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan berfungsi ini, Water Tower, sebuah bangunan peninggalan Jaman Belanda yang sampai kini beradaannya sangat dibutuhkan bagi kebutuhan air minum masyarakat kota Magelang, karena dari sinilah air minum yang ada didistribusikan dari tempat ini.
Dan yang sangat-sangat masih sangat teringat dengan jelas kenangan memorabilia saya adalah jalan Pajajaran, jalan ini saya mengenalnya dengan jalan Kemirikerep.
Jalan ini dulu dekat dengan tempat tinggal saya yang lama, dimana jalan ini merupakan jalan utama saya jika kemana-mana, dan dari tempat yang tak jauh dari ini, disalah satu rumah yang ada di sekitar jalan ini aku dilahirkan.
Sungguh mengingat seluruh kenangan yang ada tidaklah cukup dapat mengobati rasa kangen saya akan kota kelahiranku.
Saya hanya berharap semoga tulisan kecil ini dapat menjadikan pengobat rindu, rindu pada tanah leluhur dan rindu pada semua memory yang tertinggal di Magelang.

Tiga bangunan tua di Tegalsari

1.04.2010

Sering melewati jalur ini antara Tegalsari dan Jl. Tunjungan dan setiap kali melewati tidak pernah terlintas kalau di jalan ini terdapat beberapa banguna kuno yang menarik saya.
Namun ketika kemarin saya melalui jalan ini, tanpa sengaja mata saya tertuju pada sebuah bangunan yang menurut hemat saya termasuk bangunan tua.
Menilik bentuknya saya yakin ini adalah bangunan tua yang dalam keadaan rusak, tapi kami merasa lega sebab ketika saya dalam kesempatan lain, beberapa hari setelahnya dalam rangka meomotret bangunan ini saya melihat bahwa bangunan ini dalam tahan dibenahi.
Bangunan yang sempat saya abadikan ini adalah bangunan tua yang berada di Jl. Tegalsari No. 50.




















Dalam kesempatan itu pula, ketika saya memotret rumah ini tanpa sengaja saya juga  bisa melihat beberapa bangunan yang ada di sebelahnya, saya menganggap juga masih merupakan bangunan kuno namun bentuknya berbeda dengan bangunan yang sudah saya saksikan sebelumnya, Bangunan ini juga tererletak di Jl. Tegalsari No. 46.




Bangunan yang di No. 46 ini kelihatan meskipun tergolong tua, tapi menurut saya mungkin umurnya belum sebegitu tua, dibanding dengan bangunan yang sudah saya foto sebelumnya [ JL. Tegalsari No. 50 ] namun bangunan ini masih terlihat terawat baik dan bersih, mungkin karena bangunan ini masih penghuninya.





Sebetulnya masih ada bangunan satu lagi yang saat itu sempat saya foto, yaitu bangunan yang ada di Jl. Tegalsari No. 52, bangunan ini malah terkesan masih bersih dan terawat dengan baik, bahkan terkesan sangat cantik dibanding dengan bangunan-bangunan sebelumnya yang saya foto. Bangunan ini menilik bentuknya masih sama bahkan mungkin seangkatan dengan bangunan yang ada di sebelahnya No. 50.
Itulah tiga banguna nyang hari situ sempat saya tengok ketika kami jelajah kota bersama si Non, semoga jelajah kali ini akan bermanfaat dan tentunya menjadi pengobat rindu saya akan keberadaan bangunan-bangunan tua dimana saja, ketika kami jelajah kota.



Balai Sahabat Yang Makin Merana...

12.16.2009


Gedung ini terletak di Jl. Gentengkali N0.89-91 Surabaya dulunya adalah merupakan bangunan peninggalan jaman kolonial Belanda, dan gedung ini dimasanya terkenal sebagai Club House. Namun karena kurangnya perhatian dari pemiliknya ( bangunan ini sekarang dimiliki oleh yayasan ) maka bangunan kuno yang dulunya menampakkan kemegahan ini kini sekarang nyaris tak berbekas.
Gedung ini menurut catatan dibangun pada tahun 1930-an, pada awalnya gedung ini adalah gedung perkumpulan orang-orang Jerman bernama DEUCSE yaitu, perkumpulan orang-orang Eropa, khususnya orang Jerman dan Belanda yang mempunyai kegemaran dansa.
Dilihat dari luasnya bangunan yang mencapai 3.974 m3 mungkin bangunan ini merupakan gedung perkumpulan "societit" terbesar di Surabaya.
Tahun 1946, gedung ini dibeli oleh pengusaha tiong hoa bernama Phoe Sin Khoen, kemudian dihibahkan kepada perkumpulan maka, perkumpulan yang tadinya bernama Deucse berganti menjadi Lien Huan She dan seiring berjalannya waktu gedung ini berubah nama menjadi BALAI SAHABAT hingga sekarang. Sebagai catatan bahwa gedung ini pernah dipakai oleh Kostrad.
Gedung ini menurut perkumpulan Balai Sahabat merupakan perkumpulan komunitas yang beragam kegiatannya, sedang dansa ( yang sampai sekarangpun masih dilaksanakan) adalah merupakan sebagian dari kegiatan perkumpulan ini, sedang kegiatan yang lain yang dulu misalnya; Tenis, Bridge, Biliard dan Yoga, Namun karena gedung ini makin lama makin tidak terawat dan sudah jarang disewa untk keperluan pesta perkawinan dan lain-lain maka gedung ini makin lama makin mengenaskan, dan yang paling menjadi penyebab utama dari makin terpuruknya bangunan ini adalah tidak adanya insvestor yang mau menjalin kerjasama untuk mengelola dan dalam perkembangan selanjutnya keadaan ini makin diperdalam dengan munculnya dualisme kepengurusan dan muncul kabar bahwa Balai Sahabat ini akan dijual, namun dari salah seorang pengurusnya mengatakan; tidak masalah saya dilengserkan dari pengurus karena memang saya berharap ada regenerasi, tapi jangan buat isu macam-macam" demikian dia mengatakan, dan apakah benar gedung ini akan dijual, besar harapan saya semoga segera Pemerintah Kota mengeluarkan peraturan baru yang berisikan daftar nama-nama bangunan sejarah yang akan menjadi benda/bangunan cagar budaya, dan salah satunya Balai Sahabat ini masuk dalam daftar tersebut, dan tentunya kedepan bangunan ini akan mendapat perhatian dari pihak-pihak yang berkepentingan denga banguna ini, sehingga bangunan sejarah ini akan menjadi pratanda sejarah dari sebuah budaya masyarakat Surabaya.