Memorabilia kota Magelang Jilid 1
Tiga bangunan tua di Tegalsari
1.04.2010
Sering melewati jalur ini antara Tegalsari dan Jl. Tunjungan dan setiap kali melewati tidak pernah terlintas kalau di jalan ini terdapat beberapa banguna kuno yang menarik saya.
Namun ketika kemarin saya melalui jalan ini, tanpa sengaja mata saya tertuju pada sebuah bangunan yang menurut hemat saya termasuk bangunan tua.
Menilik bentuknya saya yakin ini adalah bangunan tua yang dalam keadaan rusak, tapi kami merasa lega sebab ketika saya dalam kesempatan lain, beberapa hari setelahnya dalam rangka meomotret bangunan ini saya melihat bahwa bangunan ini dalam tahan dibenahi.
Bangunan yang sempat saya abadikan ini adalah bangunan tua yang berada di Jl. Tegalsari No. 50.
Bangunan yang di No. 46 ini kelihatan meskipun tergolong tua, tapi menurut saya mungkin umurnya belum sebegitu tua, dibanding dengan bangunan yang sudah saya foto sebelumnya [ JL. Tegalsari No. 50 ] namun bangunan ini masih terlihat terawat baik dan bersih, mungkin karena bangunan ini masih penghuninya.
Sebetulnya masih ada bangunan satu lagi yang saat itu sempat saya foto, yaitu bangunan yang ada di Jl. Tegalsari No. 52, bangunan ini malah terkesan masih bersih dan terawat dengan baik, bahkan terkesan sangat cantik dibanding dengan bangunan-bangunan sebelumnya yang saya foto. Bangunan ini menilik bentuknya masih sama bahkan mungkin seangkatan dengan bangunan yang ada di sebelahnya No. 50.Balai Sahabat Yang Makin Merana...
12.16.2009

Gedung ini terletak di Jl. Gentengkali N0.89-91 Surabaya dulunya adalah merupakan bangunan peninggalan jaman kolonial Belanda, dan gedung ini dimasanya terkenal sebagai Club House. Namun karena kurangnya perhatian dari pemiliknya ( bangunan ini sekarang dimiliki oleh yayasan ) maka bangunan kuno yang dulunya menampakkan kemegahan ini kini sekarang nyaris tak berbekas.
Gedung ini menurut catatan dibangun pada tahun 1930-an, pada awalnya gedung ini adalah gedung perkumpulan orang-orang Jerman bernama DEUCSE yaitu, perkumpulan orang-orang Eropa, khususnya orang Jerman dan Belanda yang mempunyai kegemaran dansa.
Dilihat dari luasnya bangunan yang mencapai 3.974 m3 mungkin bangunan ini merupakan gedung perkumpulan "societit" terbesar di Surabaya.
Tahun 1946, gedung ini dibeli oleh pengusaha tiong hoa bernama Phoe Sin Khoen, kemudian dihibahkan kepada perkumpulan maka, perkumpulan yang tadinya bernama Deucse berganti menjadi Lien Huan She dan seiring berjalannya waktu gedung ini berubah nama menjadi BALAI SAHABAT hingga sekarang. Sebagai catatan bahwa gedung ini pernah dipakai oleh Kostrad.
Gedung ini menurut perkumpulan Balai Sahabat merupakan perkumpulan komunitas yang beragam kegiatannya, sedang dansa ( yang sampai sekarangpun masih dilaksanakan) adalah merupakan sebagian dari kegiatan perkumpulan ini, sedang kegiatan yang lain yang dulu misalnya; Tenis, Bridge, Biliard dan Yoga, Namun karena gedung ini makin lama makin tidak terawat dan sudah jarang disewa untk keperluan pesta perkawinan dan lain-lain maka gedung ini makin lama makin mengenaskan, dan yang paling menjadi penyebab utama dari makin terpuruknya bangunan ini adalah tidak adanya insvestor yang mau menjalin kerjasama untuk mengelola dan dalam perkembangan selanjutnya keadaan ini makin diperdalam dengan munculnya dualisme kepengurusan dan muncul kabar bahwa Balai Sahabat ini akan dijual, namun dari salah seorang pengurusnya mengatakan; tidak masalah saya dilengserkan dari pengurus karena memang saya berharap ada regenerasi, tapi jangan buat isu macam-macam" demikian dia mengatakan, dan apakah benar gedung ini akan dijual, besar harapan saya semoga segera Pemerintah Kota mengeluarkan peraturan baru yang berisikan daftar nama-nama bangunan sejarah yang akan menjadi benda/bangunan cagar budaya, dan salah satunya Balai Sahabat ini masuk dalam daftar tersebut, dan tentunya kedepan bangunan ini akan mendapat perhatian dari pihak-pihak yang berkepentingan denga banguna ini, sehingga bangunan sejarah ini akan menjadi pratanda sejarah dari sebuah budaya masyarakat Surabaya.
Tua di tengah kota dan masih cantik...
12.11.2009
Beberapa puluh meter dari Apotik Simpang ke arah Timur, kita akan menemukan bangunan cagar budaya yang lain yaitu; Kantor Gubernur. Bangunan ini dibangun pada masa pemerintahan VOC, Gezaghebber (penguasa) Dirk Van Hoogendrop pada tahun 1794 - 1798. Bagian gedung yang kita lihat sekarang ini sebenarnya adalah bagian belakang, sedang bagian depannya adalah yang menghadap ke arah sungai Kalimas, sehingga dahulu penghuninya dapat melihat kapal-kapal yang melewati sungai tersebut.
Maih berada di sisi Utara Jl. Gubernur Suryo, persis bebrapa meter dari Gedung Grahadi, dipojok terdapat sebuah bangunan yang tak kalah menariknya pula, yaitu Gedung Balai Pemuda. Gedung ini dalam sejarahnya memiliki sejarah yang kelam khususnya bagi warga pribumi, sebab dahulu gedung ini hanya boleh dimasuki oleh orang-orang Belanda dan warga pribumi dilarang masuk, bahkan dalam prasastinya sebagian tulisannya berbunyi : " di jaman Belanda gedung ini dipakai klas orang kulit putih, orang pribumi dan anjing dilarang masuk,.......". Gedung ini sebetulnya pindahan dari gedung yang lama yang sebelumnya berada di ujung selatan jalan Embong Malang, dipojok dengan jalan Tunjungan yang dibangun tahun 1850, kemudian pindah ke tempat ini Bangunan ini tahun 1907 - 1945 adalah milik perkumpulan orang-orang Belanda bernama " De Simpangshe Societeit " yaitu tempat orang-orang Belanda berpesta ria, dansa, dan lain-alin.
Depot Ice Cream ini didirikan untuk memenuhi selera orang Eropa yang gemar ice cream oleh Renato Zangrandi pada tahun 1930.Dulunya depot ini bernama Renato Zangrandi's Ijspaleis dan sekarang depot ini terkenal dengan nama ice cream Zangrandi.Rasa ice creamnya pun dari dulu sampai sekarang tidaklah berubah, dengan tekstur ice cream yang agak kasar dan tidak benyak menggunakan susu maka, keaslian cita rasa ini bisa dijaga sehingga inilah yang menjadi daya tarik wisatawan untuk menikmati rasa ice cream yang Old Style, coba saja Tutti Frutti dan Avocado Fudge, rasanya masih sama seperti pertama kali kedua jenis ice cream ini dibuat.Bangunan Tua di Seputar Jl. Tunjungan
11.30.2009
Seperti biasa, jika sore saya memiliki waktu yang cukup dan sore menurut saya adalah waktu yang tepat untuk mengambil obyek karena sinar tidak terlalu kuat, sehingga jika memfoto obyek yang dihasilkan akan terasa maksimal.
Dan mulailah saya hunting beberapa obyek yang selalu menjadi kegemaran saya.
Bangunan ini sudah beberapa kali difungsikan dan terakhir bangunan ini difungsikan sebagian untuk kantor Jamaah dzikir dari salah satu ormas dan sebagian lagi (sisi depan) tidak difungsikan dan dibiarkan kosong.
Gedung ini juga merupakan jajaran gedung yang ada di seputar Jl. Tunjungan, yang juga merupakan bangunan bersejarah yang masih tersisa dan sampai sekarang masih difungsikan keberadaanya, sehingga melihat keadaan bangunan ini akan terlihat lebih bersih, baik dan terawat. Gedung ini sekarang difungsikan sebagai kantor sebuah lembaga keuangan bukan bank, dan karena masih difungsikan maka, ketika kami memotret bangunan ini tampaklah masih bagus dan terawat. Bangunan ini letaknya berdampingan atau sebelah selatan dari bangunan yang sebelumnya kami ceritakan tadi, dan bangunan ini pulalah yang berada persis samping dengan gedung yang telah saya posting sebelum ini.
Dan kalau tidak salah juga, bulan Oktober 2009 kemarin terjadi juga eksekusi di bagian lain bangunan ini, dan saya sendiri tidak mengetahui secara pasti, perihal sengketa itu. Tapi setidaknya bangunan ini tidak hanya sekali mengalami peristiwa seperti itu. Bangunan ini juga dulu sempat dipakai untuk Kantor Pertanahan Nasional (BPN) sebelum kantor itu pidah di daerah perumahan Ciputra. Gedung ini dulu dinamakan gedung LOGE DE VRIENSCHAP, hal ini bisa dilihat dari prasasti yang masih ada di depan bangunan ini.








